Header Ads

KPKS SANTO PAULUS

Cabang Tangerang

[Angkatan 6] Rekoleksi di Wisma Tugu Wacana SVD Cisarua (3-4 Des 2022)

 
(Rekoleksi yang menghasilkan 1M)

Awalnya tak terbayangkan kami bisa mengadakan rekoleksi dengan transportasi mandiri. Tetapi apa yang dikatakan banyak orang bahwa kepepet menghasilkan bunga-bunga indah, hal ini terjadi.

Saling berbagi di antara para peserta untuk pengaturan moda transportasi berjalan sangat baik. Dan sungguh seru sekali karena dalam perjalanan kami yang awalnya malu-malu akhirnya jadi malu-maluin. Kesan ini juga dirasakan oleh salah satu peserta yang mengatakan bahwa beliau mengalami pengalaman penuh suka-cita, bergurau dalam mobil, saling cerita sepanjang perjalanan. Lebih menyenangkan dibanding naik bis yang biasanya hanya bisa bercakap-cakap dengan teman sebangku saja.

Selain itu, perhatian dari panitia dan Romo Sunar terhadap beberapa kelompok yang tersesat amat menyentuh hati. Kami dijemput oleh karyawan Romo Sunar.

Sejujurnya beberapa kelompok sesuai zaman saat ini, menggunakan “mbah gugle atau mbah waze” untuk mencapai tujuan, kita pasrah bongkok terhadap tuntunan dari para mbah tersebut, yang buntutnya ada kelompok sampai beberapa kali menjumpai jalan buntu. “GPS” buatan manusia yang super canggih tidak selamanya mampu mengantarkan kita ke tempat tujuan dengan tepat. Sebagai refleksi sebagai murid KPKS: kita diingatkan bahwa GPS hidup kita yang tidak pernah salah adalah Firman Allah yang hidup. Ini sejalan dengan isi sesi 1: Romo mengingatkan hendaknya hidup kita berakar pada Yesus, sehingga kita ada pada “track” yang tepat. (Kolose 2:6-7).

Perjumpaan tatap muka sesama angkatan 6 dalam rekoleksi ini, menimbulkan juga cerita seru lainnya. Selama ini kami hanya kenal wajah dari Zoom, dan pada saat bertemu sekarang baru melihat bentuk aslinya masing-masing peserta. Ada 3 orang mengomentari satu peserta dengan komentar yang sama, “lah kamu di zoom aku pikir tinggi besar – ternyata ya ampun, kecil toh.” Hahaha… Zoom membuat yang kurang indah jadi indah. Teman-teman angkatan 6 yang awalnya cuma melihat wajah via Zoom, saat bertemu mampu juga menjadi guyub, kompak dan meninggalkan kenangan indah.

Topik pertama sudah langsung menyentak hati peserta. Kami diingatkan bahwa hidup itu suatu anugerah yang indah, dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa mengembalikan waktu. Segala sesuatu yang kita dapatkan, entah apa pun juga bentuknya, apa itu kondisi fisik, talenta kita semuanya diberikan secara gratis-tis-tis, seperti tertulis pada Matius 10:8b (“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah dengan cuma-cuma”)

Sekarang pertanyaannya, apa yang mau dibagikan? Sebagian dari kita mungkin berpikir, harta tidak punya, talenta biasa-biasa saja, so..what?

Pernahkah kita merenungkan sejenak saja, mengenai perjalanan hidup kita masing-masing? Pasti ada banyak hal yang bila kita refleksikan. Itu adalah berkat kasih karunia Tuhan. Sekarang kembali pertanyaan buat diri kita: beranikah kita menggali kehidupan kita? Begitu banyak campur tangan Tuhan dalam hidup kita yang siap kita bagikan. Di sini-lah romo mengingatkan pada sesi 2, bahwa pewartaan itu bukan sesuatu yang wah. Kita harus berani menyampaikan pengalaman kita dikasihi Allah melalui kata-kata sederhana, sehingga pendengar menjadi kenal akan kasih Allah. Itulah pewartaan yang sesungguhnya.

Hal ini sejalan dengan kesan dan pesan dari salah satu panitia sebagai bukti pewartaan sederhana, yaitu berani membagikan hal yang diterima secara cuma-cuma tersebut. Panitia tersebut berani menjawab YA, untuk menjadi panitia pada acara rekoleksi ini, dan beliau bisa melihat suatu karya Tuhan yang nyata baginya. Beliau selalu merasa ada sukacita. Walaupun tentunya masih ada ruang untuk perbaikan di sana-sini, tetapi pernyataan Tuhan baginya sungguh menyadarkan bahwa Dia yang berkuasa atas segala sesuatunya, tidak akan pernah tinggalkan kita sendirian.

Topik ini mengingatkan kita untuk memberikan secara sukarela dan sukacita kepada sesama dari apa yang telah kita peroleh, setidaknya dari begitu banyak pelajaran yang kita dapatkan dari KPKS. Hal yang menjadi hambatan bagi kita adalah untuk memulai, karena bagi kebanyakan kita, menjadi “pewarta” adalah suatu label yang ditakuti. Apakah kita sudah cukup suci dalam hidup keseharian sehingga rasanya “siap”jadi pewarta?

Pada sesi 3, romo mengingatkan, bahwa Yesus sendiri pernah marah (sisi manusianya terlihat) pada saat peristiwa Bait Allah yang dijadikan tempat berjualan. Yesus mengajarkan murid-muridnya juga dengan amat tegas: Selama kita masih diberi kesempatan nafas kehidupan dan kita selalu siap berubah menjadi terus lebih baik, kita harus memiliki semangat sebagai pewarta. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna dan tentunya tidak pernah bisa sempurna. Bagaimana caranya kita bisa terus setiap hari berubah menjadi lebih baik? Mari kita semua mengacu pada sikap dan teladan role model yang kita teladani yaitu sikap Yesus sendiri. Bagaimana caranya menjadi kuat dan bertahan meneladani Yesus sebagai role model? Kita harus mengakar pada ajaranNya, berani melepas keegoan kita sesuai ajaran Yesus dan selalu ingat bahwa kita ini hanya pelayan Allah. Mental pelayan adalah mengalah, mematikan ego kita.

Tidak jarang kita sering membandingkan diri kita dengan orang lain, tak dapat dipungkiri sering timbul rasa, “kalau misalnya saya seperti dia…..”. Rasanya kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pewarta pujaan kita. Kita diingatkan bahwa setiap dari kita ini diciptakan serupa dengan Allah dan masing-masing punya keunikan tersendiri. Romo mengingatkan: kita harus mengandalkan kerahiman Allah, dimulai dengan memiliki dan menjaga hubungan dekat kepada Tuhan dan melakukan pelayanan tanpa pamrih dan jangan lupa jadilah diri kita sendiri. Bagaimana caranya kita memulai menjadi pewarta (apalagi tema rekoleksi adalah pewarta era digital)? Mulailah proaktif, berani melangkah, merenungkan, mengajar dan mengenalkan sabda Tuhan dengan gaya dan cara kita sendiri, mewartakan kebaikan Allah yang secara pribadi kita alami dan berusaha membawa harapan bagi orang-orang di sekitar kita. Pewartaan di Era Digital seharusnya menambah semangat mewartakan karena kemungkinan lebih mudah dalam mewartakan tanpa dibatasi waktu dan tempat.

Terlepas dari materi yang disampaikan oleh Romo, pengalaman rekoleksi ini sungguh pengalaman 1M. Ya rekoleksi ini membawa pulang 1M. Apa itu 1M tentunya bukan 1 Milyar tapi sikap MAU: MAU terbuka, MAU menjadi diri sendiri, MAU dibentuk, MAU terus belajar. Kita semua yang jadul MAU belajar Tiktok. Inilah salah satu penerapan langsung dari hasil rekoleksi. Dengan tekad 1M, KPKS 6 siap menjadi pewarta era digital. Yang bengkok siap diluruskan, yang rusak diperbaiki dan semua untuk kemuliaan Tuhan

Foto kegiatan senam pagi


Foto games kebersamaan malam


Foto Misa

 

Romo Sunaryo membawakan sesi rekoleksi



Kontributor:
•    Erick Stefanus Jahja (Kel. 2)
•    Grace (Kel. 3)
•    Henny Dwi Widyasari (Kel. 4)
•    Tina Madgalena (Kel. 5)
•    Ruth Solaiman (Kel. 5)
•    Erik Eneddy (Kel.1)






Diberdayakan oleh Blogger.